Assalamu’alaikum temanteman
Ini pengalaman pertamaku mendaki ke Gunung Papandayan, 2665mdpl. Kebetulan waktu itu ada temen ngajakin mendaki bareng sama sodaranya dan temen-temennya dari Bekasi. Sebelumnya saya suka latihan fisik buat mendaki di Gunung belakang kampus, namanya Gunung Manglayang 1818mdpl, jadi saya coba memberanikan diri untuk ikut mendaki bareng mereka ke Papandayan.. Karena menurut info dari teman-teman pendaki, Papandayan itu Mahamerunya Garut. Keren, semuanya ada disana. Lupa lagi tahun berapa, kalo gak salah sih ini sekitaran oktober 2014. Waktu itu kami berangkat dari Cicalengka menuju Garut dengan mengendarai mobil pribadi. Sesampainya disana kami sarapan terlebih dulu untuk mengumpulkan tenaga, dan melaksanakan sholat dzuhur juga. Lalu kami memulai pendakian, karena waktu itu banyak cowo dan carierku cukup penuh dengan logistik akhirnya salah satu dari mereka membawakan carierku. Karena pertama mendaki jadi belum punya sama sekali alat-alatnya. Jaket masih pake yg biasa aja, sepatu cm pake sepatu olahraga, pake leging bukan trening gt wkwk Untuk menuju tempat mendirikan tenda atau biasa disebut pondok saladah, kita akan melewati kawah papandayan terlebih dahulu. Pada saat melewati itu, bau belerang akan sangat tercium, biasanya kita dianjurkan menggunakan masker atau buff untuk menutupi hidung dr bau belerang yang menyengat itu. Setelah melewati kawah papandayan, kita akan menemukan papan pengarah jalan yang bertuliskan hutan mati, dari kawah papandayan memang bisa langsung menuju hutan mati tapi tanjakannya cukup curam waktu itu kita disarankan untuk menuju Pondok Saladah terlebih dahulu. 
Setelah beberapa jam berjalan, tibalah kami di Pondok Saladah, dan mulai mendirikan tenda untuk beristirahat. Di pondok saladah ternyata ada fasilitas umum seperti mushola dan toilet. Juga terdapat warung² kecil yang berjualan kopi, popmie dll Jadi memang ternyata, papandayan ini sangat cocok untuk pendaki pemula karena sudah menjadi tempat wisata jadi fasilitas umum dipapandayan ini terus meningkat. Sehingga seperti tak terasa sedang berada ditengah² hutan diatas gunung, karena ternyata sudah ada toilet, mushola dan warung² kecil. Malam pun tiba, angin dipapandayan sangatlah menusuk sampai ke tulang². Kami menggunakan salonpass di hidung untuk menghindari flu. Dengan menyalakan api unggun kami bercerita, bercanda, bernyanyi dan berdiskusi ringan. Rasanya senang sekali bisa mengenal mereka. Keesokan harinya, kami menuju ke hutan mati dengan melewati hamparan luas edelweissnya papandayan. Menunggu sunrise di atas ketinggian ternyata tak kalah indah dengan menunggu sunset dipinggir pantai. Ketika matahari mulai menyinari hutan mati, rasa dingin pun mulai hilang. Kami menikmati kehangatan dr matahari. Mengabadikan momen dengan berfoto sana sini.
Setelah puas menikmati indahnya sunrise dan hutan mati, kami turun kembali menuju padang edelweiss. Apalagi yang kurang dr Papandayan coba, hutan mati ada, kawah ada, edelweiss pun ada.
Oh iyaa, kalian tau kan edelweiss itu bunga abadi yang hanya hidup diketinggian. Makanya ada larangan untuk membawa pulang edelweiss, bisa dikenakan dendan atau sanksi jika petugas setempat mendapati ada pendaki yg membawa edelweiss. Maka dari itu, kami bermain dan berlari sepuasnya dihamparan luas edelweiss ini. Setelah itu kita memasak untuk makan siang, dan membereskan barang² utk segera pulang. Rasanya ingin menambah satu malam lagi diatas ketinggian papandayan, tetapi apa daya. Waktu itu sy masih kuliah dan ada kelas pagi dihari senin. Teman² yang lain pun harus bekerja, jadi dengan sangat terpaksa kami pun pulang. 

Setelah beberapa jam berjalan, tibalah kami di Pondok Saladah, dan mulai mendirikan tenda untuk beristirahat. Di pondok saladah ternyata ada fasilitas umum seperti mushola dan toilet. Juga terdapat warung² kecil yang berjualan kopi, popmie dll Jadi memang ternyata, papandayan ini sangat cocok untuk pendaki pemula karena sudah menjadi tempat wisata jadi fasilitas umum dipapandayan ini terus meningkat. Sehingga seperti tak terasa sedang berada ditengah² hutan diatas gunung, karena ternyata sudah ada toilet, mushola dan warung² kecil. Malam pun tiba, angin dipapandayan sangatlah menusuk sampai ke tulang². Kami menggunakan salonpass di hidung untuk menghindari flu. Dengan menyalakan api unggun kami bercerita, bercanda, bernyanyi dan berdiskusi ringan. Rasanya senang sekali bisa mengenal mereka. Keesokan harinya, kami menuju ke hutan mati dengan melewati hamparan luas edelweissnya papandayan. Menunggu sunrise di atas ketinggian ternyata tak kalah indah dengan menunggu sunset dipinggir pantai. Ketika matahari mulai menyinari hutan mati, rasa dingin pun mulai hilang. Kami menikmati kehangatan dr matahari. Mengabadikan momen dengan berfoto sana sini.
Setelah puas menikmati indahnya sunrise dan hutan mati, kami turun kembali menuju padang edelweiss. Apalagi yang kurang dr Papandayan coba, hutan mati ada, kawah ada, edelweiss pun ada.
Oh iyaa, kalian tau kan edelweiss itu bunga abadi yang hanya hidup diketinggian. Makanya ada larangan untuk membawa pulang edelweiss, bisa dikenakan dendan atau sanksi jika petugas setempat mendapati ada pendaki yg membawa edelweiss. Maka dari itu, kami bermain dan berlari sepuasnya dihamparan luas edelweiss ini. Setelah itu kita memasak untuk makan siang, dan membereskan barang² utk segera pulang. Rasanya ingin menambah satu malam lagi diatas ketinggian papandayan, tetapi apa daya. Waktu itu sy masih kuliah dan ada kelas pagi dihari senin. Teman² yang lain pun harus bekerja, jadi dengan sangat terpaksa kami pun pulang. 
0 komentar:
Posting Komentar