Papandayan kedua kali, jadi guide😂


Assalamu'alaikum teman-teman😊
Yee ke papandayan lagi😂
Karena sebelumnya saya sudah pernah ke papandayan sama teman² dr bekasi. Tiba² teman² dr karawang minta dianterin ke papandayan. Ceritanya kek jd guide mereka lagi gt.
Yowes, sy iyain. Waktu itu Januari 2015 kalo gak salah
Kebetulan sebelum mendaki sy suka batuk² dan sesak nafas. Ayah sudah melarang tp karena sudah tanggung janji mau nganter yah akhirnya maksain juga dengan syarat turun dr gunung harus ke dokter.
Saya pun memulai perjalanan ke Papandayan, kami waktu itu cuma 4 orang. Dua cowok dan dua cewek.
Temenku yg cewek agak tomboy dan keras kepala gt. Dia dengan santai sangat kurang membawa perlengkapan untuk diatas gunung.
Dan akhirnya sebelum sampai di pondok saladah kita kehujanan, teman² yg lain membawa jas hujan, sy menggunakan jaket waterproof sedangkan temanku cm modal kemeja flanelnya. Hadeuh, jangan ditiru yah guys!
Hampir sampai dipondok saladah, dan kabut pun turun. Jadi kita tidak bs melanjutkan perjalanan karena jalan menuju pondok saladah pun tak terlihat.
Akhirnya kita beristirahat di warung² kecil dan memesan kopi untuk menghangatkan tubuh paska kehujanan.
Setelah kabut mulai hilang, kamu melanjutkan perjalanan ke pondok saladah.
Sesampainya dipondok saladah, kami mendirikan tenda. Satu tenda utk cowo dan satu utk cewe. Karena tadi kami kehujanan akhirnya kami istirahat untuk menghangatkan tubuh.
Malampun tiba, dan kabut turun kembali serta angin kencang seperti akan turun hujan, membuat kami tak ingin keluar dari tenda. Bahkan api unggun pun enggan menyala dikarenakan angin tsb.
Rasanya garing, sudah jauh² datang tapi tak bs bersua didepan api unggun atau sekedar bercanda sambil menatapi bintang² dilangit.
Keesokan harinya pun kami menunggu sunset ditempat yang berbeda. Bukan dihutan mati.
Nampak cikuray yang sangat indah dibelakang kami.
Karena jarak dr tempat tsb tidak cukup jauh dri pondok saladah, akhirnya kita memutuskan untuk cepat kembali ke pondok saladah dan sarapan. Setelah sarapan, kami membereskan barang² dan pulang melewati padang edelweiss dan hutan mati.
Karena sebelumnya sy sudah sangat puas dengan edelweiss dan hutan mati. Akhirnya sy hanya membiarkan mereka bersenang² saja, karena keadaan sy yg kurang sehat sy pun ingin segera turun dan pulang.
Waktu itu kami pulang menaiki mobil pick up yg tersedia di pos 1 papandayan.
Dan, setelah beberapa bulan sy periksa ke dokter tentang keluhan sy. Ternyata sy didiagnosa Tuberkulosis Paru. Sejak saat itu sy dilarang untuk mendaki, meskipun sudah sembuh.
Karena sy jadi gampang hipotermia saat kedingina juga sesak nafas.
Jadi ini merupakan pendakian kedua dan terakhir sy.

0 komentar:

Posting Komentar