Latest Articles

Assalamu'alaikum temanteman😊 Sebelumnya sy sudah pernah menceritakan tentang menjadi bagian dr Teknik Sipil dan FKMTSI. Ini lanjutannya~ Sebenarnya karena sy agak muak di Bandung jadi akhirnya pergi ke Semarang dengan alasan ada kegiatan dr kampus. Ya sih emang bener ada kegiatan dr kampus, tp bukan dr kampusku ehehe Kemanapun sy pergi, sy sangat penasaran dengan perpustakaan dr kampus orang lain. Krn dikampusku tempat terbaik itu diperpus, setelah mesjid sih ehehe Dan, akhirnya sy memutuskan untuk bolos kegiatan dan mengunjungi perpustakaan Universitas Islam Sultan Agung, Semarang. Perpusnya keren, seriussss... Boleh bw tas lg haha Terus ruangannya full AC, pake karpet gt. Kayak diPerpustakaan Daerah Jawa Barat gt lah. Terus di beberapa sudut disediakan komputer utk para pengujung, ada juga meja kosong dengan colokkan gt buat ngecas. Mantappp👌 Dan hal keren lainnya dr UNISSULA juga, yaitu dilarang merokok diarea sekitar kampus. Ketika adzan, semua aktivitas berhenti termasuk kantin, jadi diwajibkan sholat berjamaah di mesjid UNISULLA. Daaaaan, toilet mesjidnya luaaaas banget, kita sampe mandi disana eh ini aib ya😁😂 Terus, mereka punya Rumah Sakit juga, dibawah Yayasan yg sama keknya sih. Setelah itu, Universitas PGRI Semarang. Ini tempatnya dikota, jdi cukup padat gt kl menuju kesana. Aulanya sih keren, toiletnya jg. Krna kita cm sebentar disana, jdi gak sempet liat² ruangan lainnya. Dan krna dikota, jdi bangunannta ckup minimalis gt. Teruss, Universitas Negeri Semarang. Tempatnya jauh dr Kota, digunung 😂 Daaan, luas banget pusing nyari kantin juga. Kek UNPAD sih kalo diBandung. Bangunannya itu dibilang tua banget engga, dibilang baru juga engga ya gt deh biasa aja tp luas. Banyak tmpt² yg bs kita jelajahi. Dan mesjidnya, mm biasa aja. Entah wkt itu sy gak nemu mesjid besarnya😂 Nah, karena kegiatan cukup padat jadi baru bisa jalan² dihari terakhir... Waktu itu kami pulang dr Universitas Negeri Semarang seusai menghadiri Pemaparan Jurnal Ilmiah dan Civil Expo, karena ada masalah ditransportasi dan UNNES itu ckup jauh, jadi kami pulang cukup malam. Karena lapar, kami izin keluar makan dan minta diantar sama panitia. Kami menuju McDonals krna hanya itu tempat terdekat yang masih buka. Selesai makan, kami coba iseng ngajakin panitia keliling² kota gitu. Akhirnya kami diajak ke Simpang Limanya Semarang yang dsitu juga ada Lawang Sewu yang terkenal itu. Karena sudah hampir jam 12 malam dan itu jumat malam. Agak horor juga ngeliat lawang sewu itu dr luar. Kami hanya berfoto² didepan jalan lawang sewu itu, karena gak bisa masuk. Ini udah jam 12 malem lho, dikota orang lg. Tp masih aja keluyuran wkwk Setelah puas berfoto dengan berbagai gaya, akhirnya kita pulang. Sekitar stengah 2 gt kalo gak salah, jalan menuju penginapan udah mulai sepi. Dan sesampainya dipenginapan teman² yg lain udah tidur semua~

Assalamu'alaikum teman-teman😊
Duh, sy lupa lg ini tahun berapa. Kyknya sih 2016
Waktu itu temenku ngajakin ke tebing keraton, dago. Dia doyan banget foto² gt, ya fotografer lah.
Dan gak punya temen buat hunting, akhirnya dia ngajak aku.
Dr kosan didaerah cipadung, dia jemput aku jam 4 shubuh. Parah banget kan? 😞
Kita sholat shubuh disana dengan tayamun, karena disana gak ada air. Hm zonk
Dia sengaja pengen shubuh² kesana karena katanya mau ngejar kabut paginya. Pas kita kesana eh taunya kabutnya kurang, serius ini zonk kedua.



Karena sudah terlanjur kesana, ya akhirnya dia mulai asik sendiri dengan mencari objek² foto dan sayapun sama wkwk
Kami menuju ke arah hutan pinus, eh iya kali pinus utk mencari² spot foto yang bagus.

Karena emang tempantnya emg cuma bagus buat foto² disaat shubuh gt, jadi menjelang siang hari pengunjung pun mulai berkurang.
Kami pun pulang setelah puas mengabadikan foto dihutan pinus ini.
Dijalan pulang, kami menemukan spot foto bagus dan ternyata kamera kami habis batre, akhirnya dengan sangat terpaksa hanya mengambil beberapa foto menggunakan hp lalu kami pulang.



ebenarnya garing, bahkan untuk menyantap teh manis saja dengan melihat pemandangan yang indah ini tempatnya tuh kurang.
Cuma memang disediakan untuk sekedar foto² saja karena bandung begitu terlihat dr atas tebing keraton. Meskipun tertutupi jurang² dan pohon² lainnya.



Assalamu'alaikum teman-teman😊
Yee ke papandayan lagi😂
Karena sebelumnya saya sudah pernah ke papandayan sama teman² dr bekasi. Tiba² teman² dr karawang minta dianterin ke papandayan. Ceritanya kek jd guide mereka lagi gt.
Yowes, sy iyain. Waktu itu Januari 2015 kalo gak salah
Kebetulan sebelum mendaki sy suka batuk² dan sesak nafas. Ayah sudah melarang tp karena sudah tanggung janji mau nganter yah akhirnya maksain juga dengan syarat turun dr gunung harus ke dokter.
Saya pun memulai perjalanan ke Papandayan, kami waktu itu cuma 4 orang. Dua cowok dan dua cewek.
Temenku yg cewek agak tomboy dan keras kepala gt. Dia dengan santai sangat kurang membawa perlengkapan untuk diatas gunung.
Dan akhirnya sebelum sampai di pondok saladah kita kehujanan, teman² yg lain membawa jas hujan, sy menggunakan jaket waterproof sedangkan temanku cm modal kemeja flanelnya. Hadeuh, jangan ditiru yah guys!
Hampir sampai dipondok saladah, dan kabut pun turun. Jadi kita tidak bs melanjutkan perjalanan karena jalan menuju pondok saladah pun tak terlihat.
Akhirnya kita beristirahat di warung² kecil dan memesan kopi untuk menghangatkan tubuh paska kehujanan.
Setelah kabut mulai hilang, kamu melanjutkan perjalanan ke pondok saladah.
Sesampainya dipondok saladah, kami mendirikan tenda. Satu tenda utk cowo dan satu utk cewe. Karena tadi kami kehujanan akhirnya kami istirahat untuk menghangatkan tubuh.
Malampun tiba, dan kabut turun kembali serta angin kencang seperti akan turun hujan, membuat kami tak ingin keluar dari tenda. Bahkan api unggun pun enggan menyala dikarenakan angin tsb.
Rasanya garing, sudah jauh² datang tapi tak bs bersua didepan api unggun atau sekedar bercanda sambil menatapi bintang² dilangit.
Keesokan harinya pun kami menunggu sunset ditempat yang berbeda. Bukan dihutan mati.
Nampak cikuray yang sangat indah dibelakang kami.
Karena jarak dr tempat tsb tidak cukup jauh dri pondok saladah, akhirnya kita memutuskan untuk cepat kembali ke pondok saladah dan sarapan. Setelah sarapan, kami membereskan barang² dan pulang melewati padang edelweiss dan hutan mati.
Karena sebelumnya sy sudah sangat puas dengan edelweiss dan hutan mati. Akhirnya sy hanya membiarkan mereka bersenang² saja, karena keadaan sy yg kurang sehat sy pun ingin segera turun dan pulang.
Waktu itu kami pulang menaiki mobil pick up yg tersedia di pos 1 papandayan.
Dan, setelah beberapa bulan sy periksa ke dokter tentang keluhan sy. Ternyata sy didiagnosa Tuberkulosis Paru. Sejak saat itu sy dilarang untuk mendaki, meskipun sudah sembuh.
Karena sy jadi gampang hipotermia saat kedingina juga sesak nafas.
Jadi ini merupakan pendakian kedua dan terakhir sy.
 Assalamu’alaikum temanteman😊 

Ini pengalaman pertamaku mendaki ke Gunung Papandayan, 2665mdpl. Kebetulan waktu itu ada temen ngajakin mendaki bareng sama sodaranya dan temen-temennya dari Bekasi. Sebelumnya saya suka latihan fisik buat mendaki di Gunung belakang kampus, namanya Gunung Manglayang 1818mdpl, jadi saya coba memberanikan diri untuk ikut mendaki bareng mereka ke Papandayan.. Karena menurut info dari teman-teman pendaki, Papandayan itu Mahamerunya Garut. Keren, semuanya ada disana. Lupa lagi tahun berapa, kalo gak salah sih ini sekitaran oktober 2014. Waktu itu kami berangkat dari Cicalengka menuju Garut dengan mengendarai mobil pribadi. Sesampainya disana kami sarapan terlebih dulu untuk mengumpulkan tenaga, dan melaksanakan sholat dzuhur juga. Lalu kami memulai pendakian, karena waktu itu banyak cowo dan carierku cukup penuh dengan logistik akhirnya salah satu dari mereka membawakan carierku. Karena pertama mendaki jadi belum punya sama sekali alat-alatnya. Jaket masih pake yg biasa aja, sepatu cm pake sepatu olahraga, pake leging bukan trening gt wkwk Untuk menuju tempat mendirikan tenda atau biasa disebut pondok saladah, kita akan melewati kawah papandayan terlebih dahulu. Pada saat melewati itu, bau belerang akan sangat tercium, biasanya kita dianjurkan menggunakan masker atau buff untuk menutupi hidung dr bau belerang yang menyengat itu. Setelah melewati kawah papandayan, kita akan menemukan papan pengarah jalan yang bertuliskan hutan mati, dari kawah papandayan memang bisa langsung menuju hutan mati tapi tanjakannya cukup curam waktu itu kita disarankan untuk menuju Pondok Saladah terlebih dahulu.  Setelah beberapa jam berjalan, tibalah kami di Pondok Saladah, dan mulai mendirikan tenda untuk beristirahat. Di pondok saladah ternyata ada fasilitas umum seperti mushola dan toilet. Juga terdapat warung² kecil yang berjualan kopi, popmie dll Jadi memang ternyata, papandayan ini sangat cocok untuk pendaki pemula karena sudah menjadi tempat wisata jadi fasilitas umum dipapandayan ini terus meningkat. Sehingga seperti tak terasa sedang berada ditengah² hutan diatas gunung, karena ternyata sudah ada toilet, mushola dan warung² kecil. Malam pun tiba, angin dipapandayan sangatlah menusuk sampai ke tulang². Kami menggunakan salonpass di hidung untuk menghindari flu. Dengan menyalakan api unggun kami bercerita, bercanda, bernyanyi dan berdiskusi ringan. Rasanya senang sekali bisa mengenal mereka. Keesokan harinya, kami menuju ke hutan mati dengan melewati hamparan luas edelweissnya papandayan. Menunggu sunrise di atas ketinggian ternyata tak kalah indah dengan menunggu sunset dipinggir pantai. Ketika matahari mulai menyinari hutan mati, rasa dingin pun mulai hilang. Kami menikmati kehangatan dr matahari. Mengabadikan momen dengan berfoto sana sini.  Setelah puas menikmati indahnya sunrise dan hutan mati, kami turun kembali menuju padang edelweiss. Apalagi yang kurang dr Papandayan coba, hutan mati ada, kawah ada, edelweiss pun ada.  Oh iyaa, kalian tau kan edelweiss itu bunga abadi yang hanya hidup diketinggian. Makanya ada larangan untuk membawa pulang edelweiss, bisa dikenakan dendan atau sanksi jika petugas setempat mendapati ada pendaki yg membawa edelweiss. Maka dari itu, kami bermain dan berlari sepuasnya dihamparan luas edelweiss ini. Setelah itu kita memasak untuk makan siang, dan membereskan barang² utk segera pulang. Rasanya ingin menambah satu malam lagi diatas ketinggian papandayan, tetapi apa daya. Waktu itu sy masih kuliah dan ada kelas pagi dihari senin. Teman² yang lain pun harus bekerja, jadi dengan sangat terpaksa kami pun pulang. 
Assalamu’alaikum teman-teman.
Kali ini saya akan berbagi cerita tentang uniknya jurusanku sampe UTS aja diluar kota.
Yaaps, sy lupa semester berapa ini antara 3 atau 4 kayaknya. Ini mata kuliah Komunikasi Antar Budaya yang kebetulan pada waktu itu kita disuruh buat Ujian Tengah Semester di luar kota.
Waktu itu kita berangkat selepas maghrib menuju Jogjakarta, melewati Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan selanjutnya.
Sebelum melakukan observasi sebagai bahan utk laporan UTS kami, kami terlebih dahulu sarapan di Pantai Parangtritis, sambil menikmati sejuknya udara pagi hari dipinggir pantai, ditemani dengan suara ombak dengan piyama tidur kami berlari, bermain air dan tak lupa mengabadikan momen di Pantai Parangtritis ini
Dari parangritis kami menuju ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, eh bener gak sih nulisnya? 😂
Jadi sedari parangtritis kami sudah bersiap mengenakan Jas Almamater sebagai bukti UTS kamu dijogja. Di dalam keraton, kami terbagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan apa yang ditugaskan oleh dosen kami mengenai bahan utk laporan UTS kami.
Tak lupa mengabadikan foto juga dengan menggunakan jas almamater sebagai bentuk bukti UTS diluar kampus.
Dari keraton kami makan siang laly menuju ke penginapan untuk beristirahat. Karena saya punya sodara yang lagi kuliah dijogja, jadi saya kabur dari penginapan dan minta diajak makan malam sama sodara saya ehehe
Kami menuju malioboro yang merupakan salah satu tempat yang paling ramai dikunjungi oleh turis ketika datang ke Jogjakarta. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya ke jogja, sebelumnya saya sudah beberapa kali ke Jogja dikarenakan waktu itu adik saya pondok pesantrennya didaerah Jogjakarta. Jadi bagi saya Jogja tidak begitu asing.
Pagi pun datang, saya bergegas menuju penginapan kembali karena kami akan segera pulang dan melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur. Waktu itu diJogja lagi musim hujan, dan pd saat kami sampai di Candi Borobudur kami kehujanan, hujannya tidak cukup deras, tapi awet. Jadi dengan sangat terpaksa kami tidak bisa menikmati indahnya Candi Bodobudur tsb.
anya mengabadikan beberapa foto lalu kembali ke bus untuk pulang menuju ke Bandung.
Perjalanan ini sungguh singkat, tapi berkesan. Gak akan pernah lupa. Pernah UTS sampe ke Jogja~